Waktu Posting : 03-04-2016 18:42 | Dibaca : 2310x
02-04-2015 06:50
Kebutuhan mengonsumsi obat tradisional asam urat semakin meningkat dewasa ini. Terbukti dari pemasaran produk-produk herbal yang menjanjikan akan mampu menyembuhkan asam urat dalam waktu singkat. Keputusan memilih sebuah obat untuk penyakit tertentu memang tergantung dari keputusan pribadi. Sejauh mana seorang penderita memahami penyakitnya, serta menafsirkan informasi dan keterangan dari obat-obat yang disediakan. Namun sebaiknya pilihan obat herbal untuk asam urat tidak dijatuhkan begitu saja. Walaupun banyak embel-embel tentang khasiat yang akan dirasakan dalam waktu singkat, atau produk dengan harga sangat murah, berhati-hatilah. Karena risiko dari konsumsi obat yang tidak tepat justru akan semakin memperburuk kondisi kesehatan. Baca juga : Manfaat Tahitian Noni untuk Kesehatan Tubuh Asam urat merupakan bagian dari masalah kesehatan yang mulai menyerang pada orang-orang berusia paruh baya. Gejala-gejalanya terasa sangat menyakitkan di malam hari, terutama pada bagian persendian. Penderita juga sangat mudah lelah dan seringkali tak mampu melanjutkan aktivitasnya akibat rasa sakit tak tertahankan. Faktor makanan atau minuman, serta perilaku tak sehat akan memicu timbulnya gejala-gejala penyakit pada orang dewasa. Parahnya, semakin banyak orang-orang berusia muda yang justru sudah mengalami beberapa gejala awal. Tingginya risiko makanan dan minuman tak sehat, serta lingkungan yang tak kondusif memang selalu mengancam orang-orang berusia muda dengan berbagai gejala penyakit. Baca juga : Mengatasi Bahaya Asam Urat Tinggi dengan Kulit Manggis Nah, asam urat merupakan salah satu ancaman yang patut diwaspadai. Namun kalau sudah mengalami beberapa gejala, sebaiknya segera mengambil tindakan penyembuhan dengan mengubah pola hidup supaya lebih sehat. Lebih penting lagi, harus diimbangkan antara menu makanan dan minuman yang lebih sehat. Khusus untuk metode penyembuhan, ramuan tradisional seperti Ultra Noni merupakan solusi yang telah dianjurkan bagi para penderita asam urat. Diproses dari ramuan alami yang mengandung morinda citrifolia dan ditemukan kandungannya dalam buah mengkudu. Ramuan ini merupakan seratus persen dari sari mengkudu tanpa adanya campuran dari bahan-bahan kimia. Sehingga hasil kesembuhannya akan lebih terjamin dan benar-benar menghindari risiko komplikasi.Obat ini juga sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit diabetes, kolesterol, tekanan darah, dan meningkatkan sistem metabolisme tubuh.
03-05-2014 14:19
Waspadai 5 Penyakit Mata Penyebab Kebutaan - Ada lima jenis penyakit mata yang paling sering diderita orang berusia di atas 40 tahun dan dapat mengakibatkan kebutaan. Berikut ini penjelasannya. 1. Miopia Jenis gangguan ini paling banyak terjadi. Tanda-tandanya, sulit melihat jauh dan harus menggunakan kaca mata minus. Yang perlu diwaspadai adalah Miopis Patologis, yaitu jenis miopia yang paling berbahaya dan berpotensi membutakan. Pada beberapa individu, miopia jenis ini dibarengi kerapuhan retina akibat penipisan selaput jala dari waktu ke waktu. Penyembuhan bisa dilakukan melalui operasi, tetapi tingkat keberhasilan pemulihan penglihatan sangat tergantung dari kecepatan penanggulangannya. Satu hari tertundanya pelaksanaan pembedahan sudah mampu mengurangi presentase keberhasilan dalam derajat cukup banyak. 2. Katarak Katarak merupakan gangguan mata yang paling banyak terjadi pada orang dewasa, sebab berkaitan erat dengan faktor usia. Katarak tidak bisa dihindari, tapi bisa diobati lewat operasi. Penyakit ini menyerang orang berusia 30 tahun ke atas. Gejalanya diawali dengan penglihatan ganda, peka terhadap cahaya dan kesilauan sehingga menyebabkan penglihatan di malam hari lebih nyaman dibanding siang hari. Baca juga : Cara Merawat Kulit Wajah Secara Alami Tanpa Efek Samping Gejala katarak pada stadium lanjut biasanya disertai selaput berwarna putih susu di pupil mata. Lensa mata penderita menjadi keruh dan menghalangi cahaya yang masuk sehingga tidak sampai ke retina mata bagian belakang. Selain karena faktor usia, katarak juga terjadi karena kecelakaan mata, diabetes, kelenjar paratiroid kurang aktif, radang kulit yang disebut dermatitis atopik, dan gangguan ginjal. Katarak juga bisa disebabkan alergi terhadap obat tertentu, terpaan sinar X, bahkan radang bisa disebabkan karena keturunan. 3. Glaukoma Di Indonesia glaukoma menempati urutan kedua penyakit mata yang banyak diderita golongan usia 40 tahun ke atas. Glaukoma adalah kondisi dimana cairan yang biasanya mengalir masuk dan keluar mata tiba-toba tersumbat. Sumbatan menyebabkan nyeri hebat dan hilang penglihatan. Gejala glaukoma antara lain sakit kepala hebat, mata merah, penglihatan kabur atau tampak cincin bercahaya, muntah-muntah, bola mata mengeras dan nyeri, pupil mata melebar, dan kelopak mata bagian atas membengkak. Glaukoma bisa menyerang siapa saja, tapi yang tergolong risiko tinggi adalah penderita diabetes atau penyumbatan pembuluh darah. Lebih-lebih jika sudah berusia lebih dari 60 tahun, mengalami stres emosional dan perokok, risiko glaukoma semakin besar. Baca juga : Yang Sebaiknya Anda Ketahui Mengenai Penyakit Batu Ginjal Sekali terkena glaukoma, meskipun operasi berhasil, penglihatan tidak bisa pulih penuh. Ini karena penderita glaukoma mengalami kerusakan saraf otpik permanen. 4. Degenerasi Makula (Atrofi) Degenerasi makula atau atrofi adalah penyakit mata yang menyerang daerah dekat pusat retina. Pada usia lanjut, jenis penyakit mata ini merupakan salah satu penyebab kebutaan. Ada dua bentuk degenerasi makula. Pertama, bentuk kering yang ditandai perubahan atrofi pigmen epitel dan menyebabkan kehilangan penglihatan secara perlahan. Kedua, bentuk basah yang menyebabkan kehilangan daya lihat secara cepat. Penyebab penyakit ini adalah penyempitan dan penyumbatan arteri retina karena kemunduran pada refleksi normal. Gejalanya ditandai dengan adanya perubahan pada pusat penglihatan, semacam bintik putih di tengah-tengah halaman ketika sedang membaca. 5. Retinopati Diabetika Penyakit ini merupakan komplikasi dari penyakit kencing manis yang mengganggu mata. Sekitar 60% pengidap diabetes selama 15 tahun mengalami kerusakan pembuluh darah pada mataya. Retinopati sangat berpotensi menjadi penyebab kebutaan pada penderita diabetes. Ada dua jenis retinopati diabetika. Pertama retinopati awal. Pada tahap ini, pembuluh darah di retina mata mulai berubah. Ada pembuluh yang menyempit, ada yang membesar dan membentuk kantong-kantong yang bisa menghambat jalan darah. Pada tahap ini, retinopati diabetika tidak menimbulkan gangguan serius. Tapi jika tidak segera ditangani, retinopati awal berkembang ke tahap serius dan membahayakan penglihatan. Kedua, retinopati proliferatif, yang terjadi jika retinopati awal tidak ditangani serius dan muncul pembuluh darah baru pada permukaan retina atau pada saraf optik dan kemudian mengalami kebocoran. Dari sini bisa terjadi pelepasan retina mata, glaukoma, atau cacat penglihatan berat dan kebutaan. Jika sudah mengalami retinopati. lakukan diet dan menjaga kadar gula. Kurangi pekerjaan fisik yang berat untuk menghindari pendarahan pada retina karena adanya tekanan darah yang meningkat. Hindari juga olahraga yang berat.
11-05-2014 13:27
Bertengkar dan khawatir atas masalah keluarga dapat menyebabkan peningkatan resiko kematian di usia paruh baya. Konflik dengan keluarga, teman dan tetangga menimbulkan resiko terbesar. Mereka yang paling beresiko adalah laki-laki dan orang-orang keluar dari pekerjaan, para peneliti mencatat. “Stress dalam hubungan sosial yang ada hubungannya dengan kehidupan pribadi memiliki 2 sampai 3x peningkatan resiko kematian, " kata pemimpin peneliti Dr Rikke Lund, seorang profesor di departemen kesehatan masyarakat di University of Copenhagen. "Kekhawatiran dan tuntutan dari pasangan dan anak-anak dan konflik pada umumnya , tampaknya faktor risiko yang paling penting, " katanya. Temuan masih dipegang ketika kekhawatiran atau keluhan tentang penyakit kronis, gejala depresi, umur, jenis kelamin, status perkawinan, dukungan dari hubungan sosial, dan posisi sosial dan ekonomi, kata Lund. Baca juga : Umur 40 Apakah Tidak Terlalu Tua Untuk Olahraga Rutin? "Kami juga menemukan bahwa laki-laki dan peserta luar usia kerja sangat rentan terhadap paparan stres dari hubungan sosial, " katanya . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan sosial sebenarnya lebih mirip sebuah pedang bermata dua, karena mereka juga dapat merusak ketika tidak berjalan dengan lancar. Untuk penelitian ini , Lund dan rekan mengumpulkan data pada hampir 10.000 pria dan wanita , berusia 36-52. Peserta ditanya tentang hubungan sosial mereka sehari-hari, terutama tentang siapa, hubungan di antara pasangan, anak-anak, kerabat lain, teman dan tetangga, membuat tuntutan berlebihan, mendorong kekhawatiran atau yang menjadi sumber konflik, dan seberapa sering masalah ini muncul. Mereka juga meneliti apakah memiliki pekerjaan membuat perbedaan . Menggunakan data dari Denmark Penyebab Kematian Registry, peneliti melacak peserta dari tahun 2000 sampai akhir 2011. Selama waktu itu, 196 perempuan ( 4 persen ) dan 226 orang ( 6 persen ) meninggal. Hampir separuh kematian berasal dari kanker, penyakit jantung dan stroke, penyakit hati , kecelakaan dan bunuh diri menyumbang sisanya. Sekitar 1 dari 10 mengatakan bahwa anak-anak mereka adalah sumber keluhan dan kekhawatiran. 9 persen mengatakan bahwa pasangan mereka sering menjadi sumber keluhan atau kekhawatiran . Enam persen tentang masalah antara saudara mereka dan 2 persen memiliki masalah dengan teman-teman. Baca juga : Tips Untuk Mendapatkan Keefektifan Dari Obat Herbal Beberapa 6 persen dari peserta mengatakan mereka sering memiliki konflik dengan pasangan atau anak-anak mereka , 2 persen mengalami konflik tersebut dengan kerabat lainnya, dan 1 persen dengan teman atau tetangga. Kesimpulan dari semua ini, tim Lund menghitung bahwa tekanan tersebut dikaitkan dengan risiko 50 persen menjadi 100 persen peningkatan kematian dari setiap penyebab . Di antara semua tekanan ini, berkeluh kesah adalah yang paling berbahaya. Sering bertengkar dengan pasangan, saudara, teman atau tetangga bisa meningkatkan dua kali lipat sampai tiga kali lipat dalam resiko kematian dari setiap penyebab, dibandingkan dengan mereka yang mengatakan kejadian ini jarang. Namun, para peneliti menduga bahwa stres yang lebih besar dari konflik dan masalah yang mungkin menjadi alasan di balik peningkatan resiko . Mereka mencatat bahwa ketika stress meningkat, misalnya, konflik di rumah ditambah dengan pengangguran - risiko kematian mendadak juga meningkat. Hormon stress yang meninggi dan peningkatan tekanan darah mungkin alasan terjadinya kematian mendadak. Interaksi antara stress dan respon stress tubuh serta faktor-faktor lain seperti keturunan, lingkungan, faktor sosial ekonomi dan respon psikologis - mungkin semuanya memainkan peran dalam hubungan antara konflik dan resiko kematian yang lebih tinggi . Keterampilan dalam menangani kekhawatiran dan tuntutan dari hubungan sosial serta manajemen konflik dalam pasangan dan keluarga , dan juga dalam masyarakat lokal, dapat dianggap strategi penting untuk mengurangi kematian dini.