Waktu Posting : 03-07-2014 08:14 | Dibaca : 3148x
23-02-2016 06:26
Saat ini masyarakat banyak dikejutkan dengan LGBT, banyak diantaranya yang belum tau dan mengerti dengan apa itu yang dimaksud oleh LGBT sendiri. Bahkan ada pula beberapa diantaranya yang bertanya apakah LGBT itu termasuk dalam jenis penyakit LGBT atau bukan? Untuk menjawab beberapa bentuk pertanyaan tersebut, sebaiknya Anda perhatikan terlebih dahulu uraian penjelasan di bagian bawah ini : Apa itu LGBT? LGBT atau sering pula disebut sebagai GLBT adalah singkatan dari kata Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1990 lalu, namun untuk perkembangannya memang baru dikenal oleh masyarakat dalam beberapa waktu terakhir ini. Penggunaan istilah LGBT pada mualnya digunakan untuk mengganti frasa dari Komunitas Gay. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih mewakili dari kelompok-kelompok orang yang sudah disebutkan pada bagian di atas itu tadi. Baca juga : Waspadai Penyakit di Musim Hujan dengan Cara Pencegahannya Selain itu penggunaan istilah ini juga digunakan untuk menekan bentuk keanekaragaman yang dilihat melalui kacamata seksualitas serta gender. Bahkan peggunaan istilah tersebut juga tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pihak homoseksual atau pun biseksual saja. Karena tidak jarang mereka yang heteroseksual pun dimasukkan dalam istilah yang satu ini. Karena itulah penggunaan istilah LGBT sering pula ditambahkan dengan penggunaan huruf Q yang berarti mewakili kata Queer. Sehingga istilah tersebut pun berubah menjadi LGBTQ atau GLBTQ. Penggunaan istilah ini bahkan tercatat sejak tahun 1996 lalu. Pada dasarnya tidak semua orang setuju dengan penggunaan istilah dari LGBT itu sendiri. Karena ada beberapa diantaranya pendapat yang menyatakan bahwa pergerakan transgender serta transeksual tidak sama dengan apa yang disebut sebagai Lesbian, Gay serta Biseksual. Hal ini berkaitan pula dengan gagasan dari penggunaan kata transgender serta transeksual yang memang berkaitan dengan identitas gender, namun justru terlepas dari bentuk orientasi seksual. LGBT Bukanlah penyakit atau pun kelainan Setelah membicarakan mengenai istilah LGBT yang pada dasarnya sudah dikenal sejak jaman dulu. Salah seorang pakar saraf yang bernama dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS justru mengungkapkan pendapatnya terkait dengan LGBT tersebut. Menurut beliau LGBT bukanlah jenis penyakit atau bahkan kelainan. Karena itulah tidak diperlukan adanya sistem pengobatan atau bahkan penyembuhan yang perlu dilakukan. Dokter yang akrab dengan panggilan Ryu itu bahkan menyebutkan bahwa LGBT sebagai variasi kehidupan saja. Mengepa demikian? Karena di dalam bagian biologi yang dimiliki oleh para kaum tersebut tidak terdapat hal yang tidak normal. Karena itulah hal ini dianggapnya sebagai bentuk variasi belaka. Beliau bahkan menjelaskan bakat seseorang untuk menjadi seorang lesbian, kemudian gay, biseksual atau bahkan transgender itu sendiri pada dasarnya memang sudah terbentuk ketika dirinya menjadi janin dalam kandungan ibu. Meskipun proses terbentuknya jenis kelamin, kemudian gender serta orientasi seksual adalah proses yang terjadi dengan cara terpisah, namun proses tersebut pada dasarnya memang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan ada beberapa orang yang memiliki jenis kelamin laki-laki, namun gendernya justru belum tentu maskulin. Hal ini juga turut memberikan pengaruh pada orientasi seksualnya yang juga belum tentu mengarah pada sosok perempuan. Hal ini juga lebih dijelaskan oleh sosok Ryu melalui penjabarannya yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kromosom XX belum tentu memiliki jenis kelamin sebagai perempuan, begitupun dengan kromosom XY yang juga belum tentu menjadi sosok laki-laki. fakta biologisnya, banyak sekali variasi genetik, yang pada akhirnya dapat membuat keadaan kromosom menjadi lebih banyak atau malah berkurang. Selain hal tersebut Ryu juga menjelaskan jika kaum LGBT memiliki variasi struktur otak yang berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga sulit untuk diubah. Hal ini terkait pula dengan jumlah dari kaum LGBT yang memang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Selain itu Ryu juga menambahkan bahwa seseorang yang termasuk homoseksual pada dasarnya tidak dapat menurunkan sifat asli yang dimilikinya. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang heteroseksual yang mampu memiliki keturunan. Karena itulah pada akhirnya menurut Ryu semua itu kembali pada masing-masing pribadi yang memilikinya, dan bentuk kenyamanan yang dirasakan oleh seseorang. Dengan kata lain ketika seseorang menyukai permainan drum dan memiliki bakat dalam hal tersebut, kemudia ia memilih drum itu tadi dibandingkan dengan gitar, maka hal tersebut tentu saja diperbolehkan. LGBT sebagai bentuk penyakit kejiwaan yang menular Berbeda halnya dengan bentuk pendapat yang disebutkan pada bagian di atas tadi. untuk pendapat yang akan dijelaskan pada bagian di bawah ini justru menyebutkan LGBT sebagai bentuk jenis penyakit. Selain itu penyakit LGBT ini juga dimasukkan dalam kategori penyakit menular. Isu mengenai masalah LGBT saat ini memang tengah menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Cukup banyak diantaranya orang yang berpendapat jika LGBT ini bertentangan dengan nilai serta ajaran agama. Namun tidak jarang pula orang yang beranggapan bahwa kaum LGBT berhak untuk menyuarakan keadaannya sehingga ia tidak dikucilkan dari masyarakat di lingkungan sekitarnya. Beberapa orang yang menyatakan pendapatnya bahwa LGBT bukanlah jenis penyakit justru mulai dipatahkan oleh seorang psikiater bernama Dr. Fidiansyah. Menurut beliau mereka yang termasuk dalam kaum yang satu ini justru termasuk orang yang terkena gangguan jiwa. Karena termasuk dalam bentuk penyakit dari gangguan jiwa, maka bentuk penyakit yang satu ini pun dikategorikan sebagai penyakit yang mampu menular pada orang lainnya. Hal tersebut bahkan diterangkan olehnya dalam sebuah buku yang berjudul PedomanPenggolongan Diagnosis dari Gangguan Jiwa. Dalam bukunya tersebut, Fidiansyah menyebutkan jika homoseksual serta biseksual termasuk dalam bentuk gangguan psikologis serta perilaku yang memang berhubungan dengan perkembangan dari orientasi seksual. Dari pernyataannya tersebut Fidiansyah menyatakan bahwa apa yang sudah diungkapkan olehnya atau bahkan psikiater lain yang menyebutkan LGBT sebagai bentuk penyakit menular bukan ingin mendiskriminasi. Menurut beliau hal ini dilakukan justru untuk membantu para kaum tersebut. berkaitan dengan sebutan LGBT sebagai jenis penyakit gangguan jiwa yang menular tentu saja bentuk penularannya pun tidak dilakukan melalui kontak bakteri, virus, atau bahkan mikroba lainnya. Hal ini justru lebih mengarah pada bentuk penularan melalui perubahan sikap perilaku serta bentuk pembiasaan yang dilakukan olehnya. Baca juga : Akibat yang Ditimbulkan dari Pemakaian Celana Ketat bagi Kesehatan Karena itulah LGBT dikatakan dapat menular, yang dilakukan melalui penularan perilaku. Teori penularan yang satu ini diungkapkan melalui bentuk pembiasaan. Seperti halnya ketika seseorang mulai mengikuti satu pola tertentu yang pada akhirnya akan membuat dirinya menjadi satu karekter tersebut. Sehingga pada akhirnya terbentuklah kepribadian, dengan bentuk pembiasaan yang sesuai dengan gangguan dari penyakit jiwa itu tadi. Dari beberapa bentuk pendapat yang sudah dijelaskan pada bagian di atas tadi, Anda dapat melihat bahwa masih banyak pertentangan terkait dengan isu kontroversial dari LGBT itu sendiri. Apakah ia termasuk dalam jenis penyakit yang dikenal dengan sebutan Penyakit LGBT atau bukan? Namun jika hal ini sekiranya merugikan memang lebih baik untuk tidak menjadi bagian di dalamnya.
06-05-2014 18:34
Mengenal Arterosklerosis Dan Permasalahannya - Kolesterol adalah kata yang menakutkan bagi penderita penyakit jantung. Seperti diketahui, pembetukan plak arterosklerosis dipengaruhi oleh kandungan serum tinggi kolesterol yang terjadi pada arteri di sekujur tubuh. Fungsi jantung menjadi fatal, bahkan dapat merenggut nyawa jika arteri tersumbat oleh adanya timbunan plak arterosklerosis. Itu sebabnya penderita penyakit jantung umumnya melakukan diet ketat kolesterol agar konsentrasinya dalam plasma darah berada dalam kisaran aman, yaitu di bawah 200 mg/dl. Kolesterol adalah molekul yang sangat sukar karut. Dia terakumulasi dalam sel-sel darah putih yang akan tertumpuk di luka atau kerusakan dinding arteri dalam. Pembuluh darah tersumbat akibat plak yang terbentuk dari mengerasnya tumpukan lemak menutupi permukaan pembuluh darah dalam plasma darah di saat tingginya kandungan kolesterol. Pada keadaan normal, homeostatis kolesterol dalam plasma dikendalikan lipoprotein kerapatan rendah (low density lipoprotein/LDL) dan lipoprotein kerapatan tinggi (high density lipoprotein/HDL). LDL berperan untuk mengangkut kolesterol dari jaringan tepi ke dalam plasma melalui proses endositosis. Itu sebabnya, LDL disebut juga sebagai kolesterol jahat. Sementara itu, pembersih kolesterol adalah lipoprotein kerapatan tinggi (HDL) yang memindahkan kolesterol plasma dari sel-sel mati atau membran yang hancur. Orang sehat memiliki nisbah LDL/HDL senilai 3,5. Baca juga : Obat Herbal Trigliserida Sangat Mudah Ditemukan Menurut hasil sebuah riset, kadar kolesterol bukan satu-satunya faktor penyebab penyumbatan arteri pada penyakit jantung. Pengehentian kolesterol dari diet seseorang ternyata tidak selalu mencegah masalah kardiovaskular. Banyak orang menderita penyakit jantung walau mereka telah melakukan tindakan pencegahan misalnya dengan menghindari makanan berkolesterol tinggi. Orang biasa dapat mengalami serangan jantung meski memiliki kadar kolesterol normal. Orang-orang yang makan sehat pun dapat juga terkena serangan jantung. Penyumbatan arteri dapat terjadi akibat adanya kebocoran mesin penghasil energi (mitokondria) yang terdapat di dalam sel-sel dinding pembuluh darah yang menua. Akibat kebocoran mitokondria ini adalah terjadi pelepasan molekul-molekul reaktif ke dalam pembuluh darah dan kemudian memicu rantai reaksi pembentukan plak yang akhirnya menyumbat arteri dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Seperti diketahui, tiap sel mengandung kompartemen halus yang disebut mitokondria. Dalam kompartemen ini molekul bahan bakar dari makanan diubah menjadi energi yang disimpan dalam bentuk ikatan kimia (adenosin trifosfat/ATP) yang kemudian digunakan untuk menggerakan metabolisme sel/tubuh. Pada proses produksi energi ini perlu oksigen. Baca juga : Cari Obat Darah Tinggi Tanpa Efek Samping? Dengan berjalannya umur, mesin generator energi (mitokondria) menjadi aus (kurang efisien) dan bocor. Kebocoran mitokondria melepaskan kompleks sitokrom c yang mengatalisis reaksi oksigen dalam bentuk reaktif ke dalam sel. Tim Semenkovich membuat model tikus transgenik yang telah direkayasa gennya sehingga mitokondrianya bocor ke sel. Pada dinding sel arteri tikus transgenik ini juga memiliki gen uncompling protein –I (UCPI) yang dapat diinduksi doksisiklin. Protein UCP1 adalah protein yang memutuskan rantai pembentukan energi di kompleks ATP sintase dengan cara memotong jalur pompa protein agar tidak lewat kompleks ATP sintase. Percobaan pada tikus normal dan tikus transgenik, keduanya diberi makanan diet rendah lemak (diet rendah kolesterol). Hasilnya pada tikus normal sangat jarang ditemui kasus arterosklerosis. Namun, pada semua tikus transgenik dijumpai kasus penyakit arterosklerosis. Peneliti berpikir, kebocoran mitokondria memicu akumulasi fatal plak-plak yang menyumbat arteri dalam arterosklerosis. Peningkatan kadar superoksida akibat kebocoran mitokondria akan mengaktifkan UCP1 untuk mulai mengalirkan listrik menembus membran sehingga sel-sel dinding pembuluh darah tidak mampu memproduksi energi dan akhirnya mati. Hasil riset di atas menyadarkan kita, kolesterol bukan satu-satunya faktor penyebab penyumbatan arteri. Pada intinya, agar terhindar dari suatu penyakit kita harus selalu menerapkan pola hidup sehat dan pola makan sehat yang akan menjauhkan kita dari serangan penyakit. Sebagian besar penyakit masuk ke tubuh kita melalui makanan, untuk itulah perlunya pola makan sehat, yakni makanan rendah lemak, namun tinggi serat. Dan itu bisa Anda dapatkan melalui bahan-bahan alami semisal sayur dan buah-buahan. Untuk buah-buahan, saat ini telah tersedia dalam bentuk jus herbal.
03-09-2014 10:20
Antibiotik asalnya dari dua kata Yunani, yakni ‘anti’ yang bermakna ‘melawan’ serta ‘bios’ yang bermakna ‘hidup’. Antibiotik ialah obat yang dipakai untuk menghalangi perkembangan bakteri pemicu infeksi. Obat ini sudah dipakai untuk melawan infeksi beragam bakteri pada tumbuhan, hewan, serta manusia mulai sejak th. 1930-an. Antibiotik cuma melawan infeksi bakteri serta tak bekerja melawan infeksi virus, seperti flu, pilek, sakit tenggorokan, gondok, bronkhitis, dan lain-lain. Antibiotik yang dipakai untuk menyembuhkan infeksi virus bahkan dapat membahayakan tubuh. Hal semacam ini sebab setiap saat dosis antibiotik di ambil virus tak berpengaruh, bahkan demikian sebaliknya, berlangsung penambahan kekebalan bakteri pada antibiotik. Bakteri yang kebal dengan antibiotik tak bisa dibunuh dengan obat itu pada dosis yang sama.Inilah penyebab kenapa tiap-tiap orang mesti ikuti panduan yang didapatkan oleh dokter sebelum saat mengambil antibiotik. Baca juga : Tips Membakar Kalori Secara Sederhana Penisilin, semacam antibiotik pertama, diketemukan dengan cara tak berniat oleh Alexander Fleming dari kultur jamur. Sekarang ini ada kian lebih 100 tipe antibiotik yang dipakai dokter untuk mengobati infeksi enteng hingga kronis. Beragam Tipe Antibiotik Dari 100 zat antibiotik yang di produksi dengan cara alami serta sintetis, amat sedikit yang sudah dapat dibuktikan aman serta efisien. Ada beragam jalan untuk mengklasifikasikan antibiotik. Satu diantaranya ialah dengan mengklasifikasikan antibiotik berdasar pada dampak pada bakteri. Tetapi, dalam artikel ini kita bakal memperhatikan klasifikasi antibiotik berdasar pada susunan kimianya. Tipe ntibiotik yang dikategorikan berdasar pada susunan kimia ialah semacam tersebut : - Penisilin (Penicillins) - Sefalosporin (Cephalosporins) - Aminoglikosida (Aminoglycosides) - Makrolid (Macrolides) - Sulfonamida (Sulfonamides) - Fluoroquinolones - Tetrasiklin (Tetracyclines) - Polipeptida (Polypeptides) 1. Penisilin (Penicillins) Penisilin atau antibiotik beta-laktam ialah kelas antibiotik yang mengakibatkan kerusakan dinding sel bakteri waktu bakteri tengah dalam proses reproduksi. Penisilin ialah grup agen bakterisida yang terbagi dalam penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin, serta nafsilin. Antibiotik ini dipakai untuk menyembuhkan infeksi yang terkait dengan kulit, gigi, mata, telinga, saluran pernapasan, dan lain-lain. Beberapa orang mungkin saja alami alergi pada penisilin dengan keluhan ruam atau demam lantaran hipersensitivitas pada antibiotik. Kerapkali penisilin diberikan dalam gabungan dengan beragam tipe antibiotik yang lain. 2. Sefalosporin (Cephalosporins) Sefalosporin, seperti penisilin, bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri sepanjang reproduksi. Tetapi, antibiotik ini dapat menyembuhkan beragam infeksi bakteri yang tak bisa diobati dengan penisilin, seperti meningitis, gonorrhea, dan lain-lain. Dalam masalah di mana orang peka pada penisilin, jadi sefalosporin dapat diberikan semacam alternatif. Tetapi, dalam banyak masalah, saat seorang alergi pada penisilin, jadi besar kemungkinan dia bakal alergi pada sefalosporin pula. Ruam, diare, kejang perut, serta demam ialah dampak samping dari antibiotik ini. 3. Aminoglikosida (Aminoglycosides) Tipe antibiotik ini menghalangi pembentukan protein bakteri. Lantaran efisien dalam menghalangi produksi protein bakteri, aminoglikosida diberikan diantaranya untuk menyembuhkan tifus serta pneumonia. Walau efisien dalam menyembuhkan bakteri pemicu infeksi, ada resiko bakteri makin tahan pada antibiotik ini. Aminoglikosida pula diberikan dalam gabungan dengan penisilin atau sefalosporin. Aminoglikosida efisien mengatur serta menyembuhkan infeksi bakteri, tetapi punya potensi melemahkan ginjal serta manfaat hati. 4. Makrolida (Macrolides) Sama dengan pada awal mulanya, antibiotik ini mengganggu pembentukan protein bakteri. Makrolida menghindar biosintesis protein bakteri serta umumnya diberikan untuk menyembuhkan pasien yang amat peka pada penisilin. Makrolida mempunyai spektrum lebih luas dibanding dengan penisilin serta dipakai untuk menyembuhkan infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran lambung, dan lain-lain. Ketidaknyamanan pencernaan, mual, serta diare ialah berbagai dampak samping dari makrolida. Kecuali itu, wanita hamil serta menyusui tak bisa konsumsi makrolida. 5. Sulfonamida (Sulfonamides) Obat ini efisien menyembuhkan infeksi ginjal, tetapi sayangnya mempunyai dampak beresiko pada ginjal. Untuk menghindar pembentukan kristal obat, pasien mesti minum beberapa besar air. Satu diantara obat sulfa yang seringkali dipakai ialah gantrisin. Baca juga : Mengobati Gusi Bengkak Secara Alami 6. Fluoroquinolones Fluoroquinolones ialah hanya satu kelas antibiotik yang dengan cara segera hentikan sintesis DNA bakteri. Lantaran bisa diserap dengan amat baik oleh tubuh, fluoroquinolones bisa diberikan dengan cara oral. Antibiotik ini dikira relatif aman serta banyak dipakai untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih serta saluran pernapasan. Tetapi, fluoroquinolones disangka memengaruhi perkembangan tulang. Itu karena, obat ini tak direferensikan untuk wanita hamil atau anak-anak. Dampak samping yang kerap muncul mencakup mual, muntah, diare, dll 7. Tetrasiklin (tetracyclines) serta polipeptida (polypeptides) Tetrasiklin ialah antibiotik spektrum luas yang dipakai untuk menyembuhkan beragam infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan, saluran kemih, dan lain-lain. Pasien dengan permasalahan hati mesti hati-hati waktu mengambil tetrasiklin lantaran bisa jadi memperburuk permasalahan. Polipeptida dikira cukup beracun hingga terlebih dipakai pada permukaan kulit saja. Saat disuntikkan ke kulit, polipeptida dapat mengakibatkan dampak samping seperti rusaknya ginjal serta saraf.