Waktu Posting : 18-06-2014 11:06 | Dibaca : 2778x
01-08-2024 13:32
Di Indonesia almond terkenal sebagai golongan kacang kacangan, sebetulnya almond sendiri adalah buah yang berbiji dengan cangkang yang keras. Almond merupakan tanaman khas timur tengah, sedangkan di Indonesia almond juga di kenal sebagai kacang badam. Almond dengan nama lain(Prunus dulcis ) jika di konsumsi secara rutin makan akan banyak sekali bermanfaat bagi tubuh di antaranya : 1.Sebagai Sumber Nutrisi Almond mengandung banyak nutrisi yang penting bagi tubuh di anataranya mengandung serat,lemak,protein,vitamin E,magnesium,mangan fosfor dan vitamin B2 2.Kaya Antioksidan Almond terdapat vitamin E yang kaya akan antioksidan yang berffunmgsi membangun sel sel tubuh dan juga melindungi tubuh dari radikal bebas yang bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan penuaan dini. 3.Menstabilkan Gula Darah Dengan kandungan magnesium yang tedapat di dalam almond maka almond sangat baik di konsusmi oleh penderita diabetes mellitus karena bisa mengontrol kadar gula dalam darah juga mampu memberikan rasa kenyang yang lama dalam perut. 4. Bisa Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Magnesium dalam almond tidak hanya mampu menstabilkan gula darah saja akan tetapi juga bisa menurunkan tekanan darah dan bisa meningkatkan kolesterolm baik dan menurunkan kadar kolesetrol jahat dalam tubuh.Koleseterol jahat seperti di ketahui bisa menjadi penyebab seseorang terkena serangan jantung. 5.Membantu Menurunkan Berat Badan Dengan kandungan nya yang kaya akan serat dan nutrisi maka almond bisa menurunkan nafsu makan dan dengan mengkonsumsi almond juga bisa mempercepat metabolisme tubuh juga melancarkan pencernaan sehingga tubuh tidak menimbun kelebihan lemak dan gula.Dan hal ini sangat baik bagi Anda untuk menjaga berat badan agar tetap stabil. 6.Almond Juga Baik Untuk Kesehatan Kulit Kandungan vitamin E pada almond baik bagi kesehatan kulit hal ini di karenakan kandungan anti okisdan yang terdapat dalam almond di samping kandungan vitamin E pada almond juga sangat baik untuk menutrisi kulit sehingga kulit akan tamapk lebih bersih sehat dan cerah.
25-04-2014 03:15
Terlalu Dini Minum Obat Medis Hipertensi Bisa Picu Stroke - Seakan sudah dilumrahkan awam kalau setiap tekanan darah atas atau sistolik di atas 120 dan tekanan bawah distolik di atas 80 serta merta dianggap sudah darah tinggi (hipertensi). Tak soal kapan diukur, bagaimana mengukurnya, dan dalam kondisi apa orang diukur. Kita tahu tekanan darah berfluktuasi dari waktu ke waktu, bahkan dari jam ke jam. Emosi, kondisi bergiat, efek hormonal dan faktor stres ikut mempengaruhi tekanan darah. Vonis bahwa seseorang hipertensi tidak dihasilkan oleh keputusan selewat sambil lalu. Sekali seseorang divonis hipertensi, mungkin harus berurusan dengan terus minum obat. Sikap seperti itu tidaklah bijak. Karena bila keputusan itu ternyata tidak tepat, orang merugi karena harus minum obat untuk sesuatu yang belum perlu. Baca juga : Obat Hipertensi dari Jus Buah-buahan Sejatinya, tekanan darah diukur pada saat baru bangun tidur pagi hari. Belum melakukan apa-apa, misal belum mengomel pada pembantu, belum merasa jengkel, dan belum juga bergiat fisik, di saat itulah tekanan darah langsung diukur. Tekanan darah saat itu mencerminkan kondisi semurninya tekanan darah. Tentu akan menjadi berbeda hasilnya bila diukur sudah melakukan aktivitas. Seseorang baru dipastikan hipertensi bila diukur tiga kali berturut-turut selang waktu beberapa hari dengan alat yang sama memberikan hasil yang sama-sama lebih tinggi dari normal. Hanya dari pemeriksaan tensi satu kali saja, dan hanya karena melihat lebih tinggi dari 120/80 mmHg, lalu langsung memastikan kalau itu hipertensi, bisa jadi belum tentu diagnosis yang betul. Optimalnya tekanan darah itu kurang atau sama dengan 120/80 mmHg. Menurut WHO International Society of Hypertension, tensi 130/85 mmHg masih tergolong normal dan 139/89 mmHg tergolong normal atas (high normal). Seseorang baru dikategorikan hipertensi (ringan) setelah tensinya 140/90 mmHg. Tentu dengan catatan, pengukuran dilakukan dengan kondisi seperti sudah disebut di atas dan alat tensimeternya sudah ditera normal. Baca juga : Tips Hidup Sehat Bersama Darah Tinggi Jadi kalau kondisi pengukuran tidak menghasilkan nilai tensi yang sesungguhnya dan tensinya belum berkategori hipertensi, tak bijak kalau terlalu cepat langsung diintervensi dengan obat. Mengapa? Bila tensi ternyata bukan yang sesungguhnya langsung diberi obat, bisa jadi tensi darah malah jadi anjlok. Kita tahu, tubuh punya mekanisme otoregulasi tekanan darah. Waspadai bila tak ada riwayat darah tidak pernah tinggi mendadak jadi tinggi. Perlu lebih kritis untuk bertanya ulang kalau dokter masih memberi resep, apa obat memang sudah diperlukan. Bila suatu saat tensi meninggi, ada sistem tubuh yang mengatur untuk menurunkannya. Sebaliknya, kalau tensi menurun, tubuh akan menaikkannya. Biarkan dulu mekanisme itu berjalan tanpa perlu diintervensi dengan obat. Kelewat cepat memberi obat, berarti mengacaukan mekanisme otomatisasi tubuh melakukan keseimbangan tekanan darah (homeostasis). Bisa jadi, malah bisa anjlok akibatnya. Kejadian anjloknya tensi darah akibat kelewat cepat atau mungkin kelewat tinggi pemberian dosis obat darah tinggi, bukan peristiwa yang jarang. Acap oleh ulah pasien sendiri yang memutuskan minum obat begitu merasa tekanan darah yang diukurnya sendiri di rumah meningkat, bisa-bisa fatal akibatnya. Baca juga : Tak Semua Obat Medis Cocok Untuk Hipertensi Tekanan darah yang mendadak anjlok buruk akibatnya pada otak dan jantung, selain ginjal. Pasokan darah ke organ-organ tubuh penting itu mendadak berkurang. Kita tahu otak paling rentan terhadap kekurangan pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Kasus stroke berisiko terjadi kalau tensi darah mendadak anjlok. Stroke bisa terjadi lantaran tensi darah kelewat tinggi, bisa juga bila kelewat rendah.
10-04-2023 17:57
Pasti semua orang pernah merasa pusing atau sakit kepala. Hal ini banyak terjadi karena beberapa penyebab, seperti misalnya saat mereka stress. Namun titik sakit bisa berbeda di beberapa orang. Apakah kamu pernah tiba-tiba merasa sakit pada kepala bagian belakang padahal sedang tidak melakukan apapun? Kondisi ini dapat terjadi dalam kondisi yang ringan atau bahkan parah. Namun hal ini jangan dianggap sepele, loh. Yuk, kenali penyebab kenapa hal ini bisa terjadi. Tension Headache Kondisi satu ini sering terjadi karena penderitanya sedang dalam keadaan stress. Sebenarnya banyak pemicu selain stress, yaitu kurang tidur atau lapar. Sakit yang terasa saat kondisi ini terasa sangat tegang dan menekan kepala bagian belakang dan bisa terasa selama 30 menit atau bahkan berhari-hari. Sakit Kepala Cluster Walaupun kondisi ini jarang menyerang penderitanya, namun jika sudah terjadi akan sangat menyakitkan dan menganggu aktivitas. Sakit kepala cluster biasa terjadi karena adanya masalah pada ruas tulang belakang di area leher atau adanya kelainan pada hipotalamus otak. Sakit kepala ini akan membuat sang penderita merasa pusing saat berbaring. Migrain Migrain yang terjadi pada kepala bagian belakang disebut sebagai migrain basilar. Gejala yang dimunculkan oleh kondisi ini sangat membuat siapapun yang terkena menderita. Orang yang mengalami migrain ini akan merasa pusing, telinga berdenging dan pandangan terasa kabur. Kondisi ini sering dipicu karena kurang tidur atau perubahan cuaca. Hati-hati, ya, penyakit ini sering dikaitkan dengan stroke. Postur Tubuh yang Buruk Salah satu penyebab dari kepala belakang sering sakit adalah postur tubuh yang kurang baik. Hal ini dapat terjadi saat kamu terlalu banyak membungkuk sehingga area leher, punggung atau bahu terasa sangat tegang. Karena area-area tersebut menegang, maka kepala bagian belakang akan berdenyut dan nyeri. Mengonsumsi Obat Pereda Sakit Kepala Terlalu Sering Siapa sangka bahwa mengonsumsi obat sakit kepala dalam jumlah banyak justru menjadi bumerang bagi tubuh. Bukannya mengatasi masalah, malah menambah rasa sakit. Memang baik untuk minum obat pereda nyeri saat sakit kepala menyerang, namun cukup dalam jumlah yang pas. Hal ini disebut rebound headache dimana terlalu banyak menggunakan zat secara berlebihan pada tubuh. Sakit pada kepala bagian belakang dapat sering terjadi karena penyebab diatas dan bisa cukup berbahaya dan memicu penyakit serius. Oleh karena itu kamu harus lebih berhati-hati dan waspada. Jika rasa sakit semakin parah, segera konsultasi dengan pihak profesional. Â