Waktu Posting : 20-12-2017 07:38 | Dibaca : 1791x
22-07-2016 01:01
Berikut adalah dua cerita pendek yang memberi kesadaran baru dan jarang kita perhatikan, namun kini telah kami sampaikan kepada Anda. Cerita pertama: Ada seorang anak, yang mempunyai ibu berusia lanjut, giginya sudah tanggal semua, sehingga membuat anaknya ingin membawa ibunya untuk memasang gigi palsu. Begitu masuk ke klinik gigi, dokter pun mulai mempromosikan gigi palsu mereka, namun si ibu maunya gigi palsu yang paling murah. Mendengar itu, sang dokter tidak mau menyerah begitu saja, sambil memandangi si anak, dengan sabar ia menjelaskan perbedaan kualitas antara gigi yang bagus dan buruk. Namun, yang sangat mengecewakan dokter adalah, anak yang tampaknya berduit itu acuh tak acuh, hanya sibuk merokok sambil telepon, sama sekali tidak peduli dengannya. Dokter gagal meyakinkan si ibu, hingga akhirnya memenuhi permintaannya. Saat itu, dengan tangan bergetar, si ibu mengambil sebuah kain bungkusan, lalu membukanya selapis demi selapis, kemudian mengambil dan menyerahkan uangnya kepada dokter sebagai uang muka, dan semingu kemudian akan kembali lagi untuk memasang gigi palsunya. Baca juga : Tips Agar Hubungan dengan Suami/Istri Semakin Harmonis Setelah si ibu dan anaknya meninggalkan klinik, orang-orang yang ada di klinik mulai jengkel dan marah-marah terhadap anak berduit tersebut, berpakaian necis, rokonya pun cerutu kualitas tinggi, tetapi tidak rela mengeluarkan uang untuk sepasang gigi palsu yang bagus bagi ibunya. Tepat di saat mereka masih memendam rasa jengkel dan amarah itulah, tak diduga anak berduit itu pun kembali ke klinik dan berkata : “Dok, tolong buatkan gigi porselen yang terbaik buat ibu saya, biayanya saya yang tanggung, tidak masalah berapa pun harganya. Tapi, saya minta anda jangan mengatakan hal yang sebenarnya kepada ibu saya, ibu saya orang yang sangat hemat, dan saya tidak ingin membuatnya sedih karena hal ini.” Cerita kedua: Saya ke pembaringan biasanya pada pukul 23:00 malam, di luar jendela sana tampak hujan salju. Saya menyusutkan diri di balik selimut, mengambil jam alarm, namun alarmnya tidak berfungsi, karena sudah saatnya ganti baterai baru dan saya lupa membelinya. Cuaca yang begitu dingin seperti itu, membuat saya malas untuk bangun lagi. Rasa malas membuat saya menelepon ibu, “Bu, jam alarm saya belum diganti dengan baterai baru, sementara besok pagi saya harus ke kantor untuk rapat, dan saya harus bangun pagi, jadi, besok jam 6 pagi, ibu bangunkan saya ya melalui telepon.” Suara ibu di ujung sana terdengar agak serak, mungkin sudah tertidur, kemudian terdengar ucapanya, “Ya, baiklah”. Saat telepon berdering, saya sedang bermimpi indah, langit di luar sana tampak gelap gulita. Sementara di seberang sana, ibu berkata, “Xiao-ju, ayo bangun, hari ini ada rapat.” Aku melihat jam di pergelangan tanganku, baru jam lima pagi. Lalu dengan jengkel, aku berteriak, “Bukankah aku bilang jam enam pagi? Aku kan masih mau tidur beberapa saat lagi, tapi ibu ganggu!” Tiba-tiba di seberang sana, ibu terdiam, dan aku pun menutup telepon. Setelah bangun, aku pun merapikan diri, dan siap berangkat ke kantor. Dingin sekali cuacanya, tampak hamparan salju di mana-mana. Di halte bis, aku terus menginjak kakiku saking dinginnya. Di sekeliling tampak gelap gulita, sementara di sampingku berdiri dua orang tua yang sudah senja. Aku mendengar si kakek berkata pada nenek itu, “Coba lihat kau, semalaman tidak tidur dengan nyenyak, waktu masih pagi juga kau mulai mendesakku, dan coba lihat sekarang harus menunggu begitu lama di sini.” Ya, bis pertama baru akan tiba lima menit lagi. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bis yang ditunggu-tunggu itu pun datang, aku bergegas naik ke atas bis. Supir bis adalah seorang pemuda tanggung, sang supir segera tancap gas setelah menunggu aku naik ke dalam bis. Aku berkata kepadanya, “Hei, sopir, di bawah sana masih ada dua orang tua, cuaca begitu dingin, mereka sudah lama menunggu di sana, mengapa kau langsung tancap gas tidak menunggu mereka ?” Dengan bangga pemuda tanggung itu berkata, “Tidak apa-apa, mereka itu ayah ibu saya. Hari ini adalah hari pertama saya menarik (sebagai supir) bis umum, mereka datang hanya sekadar melihat saya.” Baca juga : Akhlaq Suami Terhadap Istri Tiba-tiba mataku berkaca-kaca dan meneteskan air mata, aku membaca pesan pendek dari ayah, “Nak, ibu bilang, ibu yang salah, ibu selalu tidak bisa tidur dengan nyenyak, sebenarnya sejak awal ibu sudah bangun, dan ibu khawatir kamu akan terlambat rapat.” Tiba-tiba aku teringat sebuah pepatah Yahudi : “Ketika ayah memberikan sesuatu untuk anaknya, sang anak pun tersenyum. Namun, ketika si anak memberikan sesuatu untuk ayahnya, sang ayah menangis.” Setelah membaca cerita ringkas dan sarat dengan makna ini, mengingatkan kita untuk menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Seumur hidup ini, orang yang memungkinkan kita berutang terlalu banyak dan tidak mengharapkan balasan jasa serta tanpa pamrih hanyalah Ayah dan Ibu, yakni orang tua kita. Jadi janganlah berkeluh kesah hanya karena mendengar ocehan mereka, sebaiknya maklumi dan pahami mereka, bersyukur dan terima kasih kepada mereka, serta peduli dengan mereka. Hidup ini singkat, jangan pernah merasa bosan untuk melihat orang tua kita selagi sempat, walau hanya sekejap. (secretchina/jhon/ran)
14-08-2023 07:00
Setiap tanggal 14 Agustus, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pramuka. Di tahun 2023 ini, peringatan Hari Pramuka telah memasuki usia ke 62. Untuk memperingati hari bersejarah ini, biasanya sekolah negeri telah mengintruksikan kepada seluruh pelajar untuk mengenakan seragam pramuka. Selain mengenakan seragam pramuka, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pelajar untuk memperingati Hari Pramuka yang akan dibahas di artikel ini. Mari simak bersama penjelasannya! Sejarah Hari Pramuka Hari Pramuka adalah perayaan yang dirayakan oleh Gerakan Pramuka di Indonesia setiap tanggal 14 Agustus. Tujuan dari perayaan ini adalah untuk memperingati berdirinya Gerakan Pramuka di Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961. Gerakan Pramuka adalah organisasi kepanduan yang bertujuan untuk membentuk karakter, kepribadian, dan keterampilan generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat Pendidikan, sosial, dan kepramukaan. Gerakan ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Pada tanggal 29 Juli 1912, Dr. K.A.A. Pasteur, seorang dokter dari Hindia Belanda, memperkenalkan Gerakan kepanduan kepada para pelajar dan pemuda. Namun, Gerakan ini belum memiliki organisasi resmi. Setelah Indonesia merdeka, upaya untuk membentuk Gerakan Pramuka sebagai organisasi resmi terus berlanjut. Pada tahun 1959, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden No. 238 tentang Pokok-Pokok Pengurus Gerakan Pramuka. Namun, peraturan ini belum memberikan status resmi kepada Gerakan Pramuka. Barulah pada tanggal 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno secara resmi mengakui Gerakan Pramuka Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 190/1961. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Pramuka. Penetapan tanggal ini mengacu pada tanggal berdirinya organisasi kepanduan Indonesia, yang kemudian menjadi Gerakan Pramuka. Sejak saat itu, setiap tahun tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka di Indonesia. Peringatan ini diadakan dengan berbagai kegiatan seperti upacara bendera, pertemuan pramuka, lomba-lomba, kegiatan sosial dan kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai kepramukaan di kalangan generasi muda. Cara Mempengeringati Hari Pramuka Memperingati Hari Pramuka bagi pelajar dapat dilakukan dengan berbagai cara yang bermakna dan mendukung semangat kepramukaan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan: 1. Upacara Bendera Khusus: Adakan upacara bendera khusus di sekolah dengan mengundang seluruh siswa, guru, dan staf. Selama upacara tersebut, selain penghormatan terhadap bendera, juga bisa diadakan penampilan atau presentasi mengenai sejarah dan makna Hari Pramuka. Lomba atau Kompetisi Pramuka: Selenggarakan berbagai lomba atau kompetisi yang berhubungan dengan kegiatan pramuka, seperti lomba merangkai simpul, lomba bernyanyi lagu pramuka, atau lomba membuat poster bertema kepramukaan. Kegiatan Outdoors: Jika memungkinkan, adakan kegiatan luar ruangan seperti kemah, perkemahan, atau hiking bersama para siswa. Kegiatan semacam ini tidak hanya mengajarkan keterampilan bertahan di alam terbuka, tetapi juga memupuk semangat tim, kerjasama, dan rasa tanggung jawab. Ceramah atau Diskusi: Undang narasumber untuk memberikan ceramah atau diskusi mengenai pentingnya kepramukaan, nilai-nilai yang terkandung dalam gerakan pramuka, dan bagaimana siswa dapat menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pameran Pramuka: Buat pameran yang menampilkan sejarah, perjalanan, dan prestasi Gerakan Pramuka di sekolah. Pameran ini dapat mencakup foto-foto, dokumen, dan informasi tentang kegiatan-kegiatan pramuka yang telah dilakukan. Kegiatan Sosial: Selenggarakan kegiatan sosial seperti penggalangan dana untuk amal, kunjungan ke panti asuhan, atau kegiatan lingkungan yang mencerminkan semangat gotong royong pramuka. Pastikan bahwa semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai kepramukaan, serta memungkinkan partisipasi dan keterlibatan semua siswa. Tujuan utamanya adalah untuk merayakan semangat kepramukaan, mengedukasi, dan memupuk nilai-nilai positif di kalangan pelajar. Selamat Hari Pramuka!
15-07-2016 23:17
Perempuan harus menunjukkan sikap tidak suka bila pacar sampai berani memegang payudara apalagi bagian vagina. Terlalu sering memegang payudara, jelas Dr Boyke, bisa merangsang terjadinya kanker payudara. "Bila terlalu kencang pegangnya, bisa menimbulkan trauma," kata Boyke. Baca juga : Penyakit Akibat Telat Makan Sementara kalau mereka sampai berani memegang vagina pasangannya, bisa menimbulkan keputihan karena jari belum tentu bersih. Tak jarang sampai terjadinya infeksi, dan berisiko sulit punya anak. "Kalau jari sampai masuk bisa merobek selaput darah. Belum berhubungan seks sudah sobek, bayangkan saja. Bahkan ada sampai yang berdarah," kata Dr Boyke. "Di sinilah perempuan harus berani tegas mengatakan 'tidak'," kata Dr Boyke. Baca juga : Pikir Dulu Sebelum Pasang Tato Dr Boyke menyarankan agar perempuan menggunakan celana panjang jeans agar tangan pasangannya tidak ke mana-mana. "Kalau cuma pegang tangan, peluk sayang, itu merupakan ungkapan dari bahasa cinta. Kalau lebih dari itu, perempuan yang harus tegas. Bilang saja geli atau jujur bilang tidak suka," Dr Boyke menekankan.