Waktu Posting : 21-06-2014 07:18 | Dibaca : 2441x
07-09-2014 23:46
Kanker serviks, atau yang dikenal juga dengan kanker mulut atau leher rahim, adalah jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita di dunia, termasuk di Indonesia. WHO pun mencatat bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian teratas pada wanita. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel abnormal pada leher rahim tumbuh dan menyebar tanpa terkontrol. Serviks adalah bagian bawah rahim (leher rahim) yang membuka dan terhubung ke kemaluan wanita. Penyebab Kanker Serviks Umumnya–lebih dari 99,5%–kanker serviks disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV. Virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui sentuhan, perpindahan cairan, atau menyentuh tempat yang telah terjangkit dengan virus ini. Namun yang paling umum adalah ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus HPV. Ada banyak jenis virus HPV, dan tidak semuanya menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan orang dewasa telah atau pernah terinfeksi virus HPV, namun infeksi virus ini bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi terkadang infeksi virus ini bisa menyebabkan kutil pada daerah kelamin atau menyebabkan terjadinya ke kanker serviks. Baca juga : Kantung Mata, Penyebab dan Cara Mengatasinya Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Itulah mengapa sangat penting bagi wanita melakukan tes PAP smear secara reguler untuk mendeteksi ketidaknormalan pada leher rahim sebelum mereka berubah menjadi kanker. Pada tes ini berlangsung, dokter akan mengorek sampel kecil dari sel-sel di permukaan leher rahim untuk melihat perubahan sel. Jika tes PAP menunjukkan perubahan yang abnormal, dokter akan melakukan tes lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berupa kanker atau dapat menyebabkan kanker di leher rahim. Gejala Kanker Serviks Perubahan abnormal pada sel serviks jarang menimbulkan gejala. Jika perubahan tersebut berkembang menjadi kanker, gejala yang timbul bisa berupa: Pendarahan tak normal pada vagina, misalnya di antara periode menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause. Merasa sakit ketika berhubungan intim atau ketika buang air kecil. Nyeri di perut bagian bawah atau panggul. Keputihan yang tidak normal, misalnya berlebih atau bercampur darah. Perubahan signifikan yang tak dapat dijelaskan pada siklus menstruasi. Pada tahapan yang lebih lanjut, gejala yang mungkin timbul antara lain: Anemia karena pendarahan berlebih pada kemaluan. Sakit berkelanjutan pada panggul, punggung dan juga kaki. Masalah urinasi/buang air kecil. Berat badan turun drastis. Baca juga : 10 Kebiasaan Yang Bisa Turunkan Berat Badan Melakukan screening dan tes sejak dini sangat berperan untuk mencegah kanker serviks. Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi kasus kanker serviks yang invasif, yaitu sebesar 50% atau lebih. Penanganan Kanker Serviks Perawatan dan penanganan kanker serviks meliputi operasi pada kanker serviks stadium awal, dan kemoterapi serta radioterapi pada stadium yang lebih lanjut. Tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang, penderita mungkin akan satu atau lebih penanganan (kombinasi). Jika dilakukan hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) pada penderita, maka penderita tak bisa lagi memiliki anak. Namun hysterectomy tidak selalu dibutuhkan, khususnya jika kanker ditemukan masih pada tahap sangat awal.
14-03-2016 11:49
Sering Galau Bisa Bikin Sakit Jantung - Putus cinta tentunya paling tak enak. Dunia terasanya hancur dibuatnya. Hari-hari Anda juga dihiasi dengan kebimbangan setiap waktu. Barangkali Anda pernah memikirkan, biarkanlah sang waktu yang mengobati serta Anda bakal lupa dengan sendirinya. Tetapi janganlah salah, nyatanya patah hati yang kritis juga dapat menyebabkan penyakit yang serius, satu diantaranya ialah broken heart syndrome (sakit jantung). Apa efek stres emosional pada kesehatan tubuh? Selaku manusia, sungguh lumrah bila kita merasakan stres terlebih bila kita kehilangan orang yang kita sayangi. Stres emosional memanglah bisa menyebabkan beragam efek kesehatan, tidak cuma sulit tidur serta hilang nafsu makan namun pula bisa mengakibatkan munculnya beragam penyakit. Berdasar pada riset yang diterbitkan di jurnal JAMA Internal Medicine, resiko penyakit jantung atau stroke bertambah sampai 3 kali lipat pada 3 bln pertama sesudah kematian orang yang disayangi. Kaum peneliti pun mendapatkan kalau ada penambahan resiko 25% lebih tinggi kematian pada 1 thn sesudah ditinggal orang yang disayangi pada pasangan lanjut usia, dengan puncaknya ialah 3 bln pertama. Baca juga : Kurangi Kafein Mulai Sekarang Jika Tidak Ingin Cepat Lelah Rasa nyeri atau pedih yang kita alami itu bisa mengakibatkan darah mengalir ke ruang otak yang "bertanggungjawab" untuk membuat nyeri fisik. Kecuali itu, stres emosional bisa mengurangi kekebalan tubuh serta mengakibatkan munculnya peradangan serta penyakit. Waktu Anda menderita patah hati yang menjadikan Anda amat stres, tubuh bakal menghasilkan hormon adrenalin serta kortisol terlalu berlebih. Pada dosis kecil hormon ini bisa menaikkan denyut jantung. Tetapi bila terlalu berlebih bisa menyebabkan fatal untuk jantung. Apakah itu broken heart syndrome? Broken heart syndrome ialah satu penyakit atau masalah yang berlangsung pada jantung, memiliki sifat temporer serta kerapkali dikarenakan oleh kondisi penuh tekanan (umpamanya kehilangan orang yang di cintai). Pada broken heart syndrome, ada masalah sesaat dari kegunaan pompa jantung. Keadaan ini sering dikatakan dengan sindrom takotsubo. Ketika serangan, otot jantung yang "sakit" tak bisa memompa darah dengan cara normal ke semua tubuh. Hal tersebut apabila didiamkan bisa mengakibatkan terjadinya gagal jantung serta membahayakan jiwa. Bagaimana gejala broken heart syndrome? Beberapa gejala broken heart syndrome bisa mirip gejala serangan jantung, seperti nyeri dada serta sesak napas. Umumnya beberapa gejala itu bisa pulih sendiri dalam kurun saat 1 minggu. Tetapi bila Anda merasakan nyeri dada mendadak, dada berdebar maupun sesak sesudah ada momen yang bikin Anda tertekan, cepatlah pergi ke tempat pelayanan kesehatan. Apa penyebabnya broken heart syndrome? Penyebabnya dari broken heart syndrome masihlah belum secara pasti di ketahui. Tetapi di duga dikarenakan oleh ada penambahan mendadak hormon stres, umpamanya hormon adrenalin yang bisa mengakibatkan rusaknya jantung sesaat. Berbagai aspek pemicunya bisa berbentuk : Kehilangan atau kematian orang tercinta Diagnosis penyakit yang "menakutkan" Kekerasan fisik/verbal/seksual Kehilangan harta benda dalam jumlah banyak serta mendadak Bencana alam Kehilangan pekerjaan Perceraian Dll. Baca juga : 5 Langkah Supaya Lebih Bahagia di Kantor Bagaimana membedakan broken heart syndrome dengan episode serangan jantung? Beberapa gejala broken heart syndrome nyaris serupa dengan serangan jantung. Umumnya serangan jantung dikarenakan oleh penyumbatan pembuluh darah pada arteri jantung. Bila berjalan dengan cara terus-menerus, beberapa sel otot jantung bisa mati serta mengakibatkan rusaknya permanen jantung. Sedang pada broken heart syndrome tidak sama. Umumnya orang yang menderita broken heart syndrome mempunyai pembuluh darah jantung yang normal. Beberapa sel jantung "berhenti" sesaat oleh hormon stres, tetapi tak mati serta mengakibatkan jantung rusak. Lantaran beberapa gejala broken heart syndrome serupa dengan serangan jantung, perlu untuk Anda untuk secepatnya memeriksakan diri ke dokter. Penyelesaian serangan jantung mesti dikerjakan secepat-cepatnya.
02-07-2024 12:23
Kanker otak stadium 4 (Glioblastoma Multiforme) adalah kanker yang tumbuh cepat dan agresif di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini menyerang jaringan otak terdekat. Tetapi pada umumnya tidak menyebar ke organ yang jauh. GBM adalah kanker otak yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu enam bulan atau kurang jika tidak ditangani, oleh karena itu, sangat penting untuk segera mencari perawatan ke dokter spesialis neuro-onkologi dan bedah saraf. Kanker otak stadium 4 tidak dapat disembuhkan Glioblastoma tetap merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Rata-rata penderitanya memiliki harapan hidup rata-rata 15 bulan. Hanya 5,5% pasien bertahan lima tahun setelah diagnosis. GBM terdiri dari subtipe primer dan sekunder yang berevolusi melalui jalur genetik yang berbeda, yang memengaruhi pasien pada usia yang berbeda dengan hasil yang berbeda. GBM dapat terjadi pada semua usia. Namun cenderung lebih sering terjadi pada kelompok usia paruh baya tua dan lebih sering terjadi pada pria. Tidak ada obat untuk GBM, perawatan mungkin memperlambat pertumbuhan kanker dan mengurangi gejala. https://pafikotasimpangtigaredelong.org/ Gejala kanker otak stadium 4 Gejala bisa bervariasi tergantung pada lokasi kanker di otak, tetapi gejala yang mungkin terjadi adalah berikut ini : Sakit kepala terus-menerus Penglihatan ganda/kabur Muntah Kehilangan selera makan Perubahan suasana hati dan kepribadian Perubahan kemampuan berpikir dan belajar Kejang Penurunan kemampuan berbicara secara bertahap. Diagnosis kanker otak stadium 4 Ada beberapa jenis tes dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis GBM, antara lain : 1. Tes Neurologis Jenis tes ini memeriksa penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi, kekuatan, dan refleks. Tes ini dapat memberi petunjuk tentang bagian otak yang terkena GBM. 2. Tes Pencitraan Tes pencitraan dapat membantu menemukan lokasi dan ukuran GBM. MRI sering digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini. Tes pencitraan lain mungkin termasuk CT Scan dan Positron Emission Tomography (PET). 3. Mengambil sampel jaringan untuk pengujian Biopsi adalah prosedur untuk mengambil sampel jaringan untuk pengujian. Cara pengambilannya dilakukan menggunakan jarum sebelum operasi atau selama operasi untuk mengangkat GBM. Sampel dikirim ke laboratorium untuk pengujian. Tes dapat mengetahui apakah sel-sel itu kanker atau apakah itu sel GBM. Tes khusus sel kanker dapat memberi tim dokter pasien lebih banyak informasi tentang GMB dan prognosis pasien. Tim menggunakan informasi ini untuk membuat rencana perawatan. Prosedur Pengobatan kanker otak stadium 4 Kanker otak stadium 4 memang tak bisa disembuhkan namun dengan pengobatan bisa memperlambat dan memperpanjang harapan hidup. Perawatan andalan untuk GBM adalah operasi atau pembedahan, diikuti dengan radiasi dan kemoterapi. Tujuan utama pembedahan adalah mengangkat kanker sebanyak mungkin tanpa melukai jaringan otak normal di sekitarnya. 1. Pembedahan Pembedahan dilakukan untuk mengurangi jumlah jaringan kanker padat di dalam otak, membuang sel-sel di pusat kanker yang mungkin resisten terhadap radiasi dan/atau kemoterapi tahap awal. Di samping itu juga mengurangi tekanan pada otak. 2. Terapi radiasi Setelah operasi dan luka sembuh, terapi radiasi bisa dimulai. Tujuan dari terapi radiasi adalah untuk secara selektif membunuh sisa sel kanker yang telah menyusup ke jaringan otak normal di dalamnya. Dalam terapi radiasi sinar eksternal standar, beberapa sesi ‘fraksi’ dosis standar radiasi dikirim ke lokasi kanker.. Sayangnya, setiap perawatan menyebabkan kerusakan pada jaringan sehat dan normal di sekitarnya. Namun pada saat pemberian terapi selanjutnya, sel sehat telah berhasil memperbaiki diri sementara sel kanker tidak. Proses ini diulang untuk total 10 sampai 30 kali perawatan, biasanya diberikan sekali sehari, lima kali seminggu, tergantung jenis tumornya. Penggunaan terapi radiasi memberi sebagian besar pasien hasil yang lebih baik dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih lama dibandingkan dengan operasi saja atau perawatan suportif terbaik. Pasien yang menjalani kemoterapi diberikan obat khusus yang dirancang untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dengan obat temozolomide adalah standar pengobatan GBM saat ini. Obat ini umumnya diberikan setiap hari selama terapi radiasi dan kemudian selama enam siklus setelah radiasi selama fase perawatan. Prognosis Glioblastoma adalah kanker agresif yang sulit diobati. Perawatan dilakukan untuk meringankan gejala dan membantu pasien tetap nyaman serta memperpanjang hidup pengidapnya.