Waktu Posting : 14-09-2017 07:14 | Dibaca : 1997x
Ciri-ciri Penyakit Diabetes pada Wanita - Penyakit Diabetes Melitus adalah penyakit jangka panjang atau kronis yang ditandai dengan kadar gula darah atau glukosa yang jauh di atas normal. Dan glukosa itu sendiri sangat penting perannya bagi kesehatan tubuh manusia karena sebagai sumber energi yang utama baik bagi otak maupun bagi sel-sel yang membentuk otot serta jaringan pada tubuh. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun terhadap wanita, ada beberapa ciri yang khusus.
Ada baiknya mengetahui gejala-gejala terserang penyakit diabetes yang terjadi pada setiap orang, yaitu sebagai berikut :
Di samping gejala-gejala di atas yang secara umum, terdapat gejala yang khusus yang terjadi pada wanita, yaitu :
Apabila terdapat gejala-gejala di atas namun terkadang tidak disadari, sebaiknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar mendapat diagnosa yang pasti. Dan bagi yang telah terdiagnosa menderita sakit diabetes jangan berkecil hati. Tak ada salahnya mencoba obat diabetes alami yaitu dengan mengkonsumsi buah mengkudu . Buah mengkudu telah terbukti khasiatnya dalam menyembuhkan penyakit diabetes.
Mengkudu memiliki kandungan seperti vitamin, serat alami, kalium, fosfor serta kandungan nutrisi lainnya yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Selain itu juga mengandung antioksidan yang tinggi sehingga dapat membantu dalam proses penyembuhan diabetes.
11-06-2014 02:10
Assalamualaikum bu,ibu saya berumur 50thn,ia kena diabet,sbelumnya punya gangguan maag,akhir2 ini sering kambuh maagnya,attensi darahnyapun mulai dlu rendah,Ɣªήğ ingin sy tanyakan gmn crnya mengatasi maagnya biar Ǧªªªк̲̣к̲̣к̲̣. Kambuh?sedangkan kl diabet mknya :) Ҩɑ̤̈̊к̲̣̣ bleh sring,hrs di takar.skian trimakasi atas jwbnya
13-09-2025 17:12
Dalam dunia politik yang penuh dinamika, taktik kompromi sering dianggap sebagai keharusan. Namun, Anies Rasyid Baswedan justru hadir dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia dikenal sebagai pemimpin tanpa kompromi dalam hal prinsip, terutama ketika menyangkut nilai-nilai keadilan, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Gaya kepemimpinan Anies bukan hanya menarik untuk diamati, tapi juga menginspirasi, terutama dalam konteks pemerintahan yang kerap dinodai oleh kepentingan jangka pendek.Selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta (20172022), Anies mempraktikkan kepemimpinan yang berani mengambil risiko. Ia tak ragu menolak tekanan politik, menunda proyek jika tidak sesuai prinsip, dan mengambil langkah tidak populer jika itu dianggap benar secara moral dan substansial. Inilah yang menjadikannya dikenal sebagai pemimpin yang memimpin dengan gagasan, bukan tekanan.Teguh pada Prinsip, Fleksibel dalam PendekatanAnies bukan pemimpin kaku. Ia terbuka terhadap masukan, dialog, dan koreksi. Namun dalam hal prinsip dan nilai dasar, ia teguh berdiri. Hal ini terlihat saat ia mempertahankan pendekatan penataan kampung kota secara manusiawi, seperti di Kampung Akuarium, yang sebelumnya digusur oleh pemerintahan sebelumnya. Alih-alih melanjutkan kebijakan penggusuran, Anies memilih untuk melibatkan warga dalam proses perencanaan ulang kampung tersebut. Baginya, keadilan sosial lebih penting daripada mengejar citra pembangunan semata.Gaya kepemimpinan ini jelas menunjukkan bahwa kompromi atas nama kepentingan politik tidak mendapat tempat dalam pengambilan keputusan. Prinsip keadilan dan keberpihakan pada rakyat menjadi kompas utama.Berani Mengambil Keputusan Tidak PopulerContoh nyata dari gaya kepemimpinan tanpa kompromi Anies adalah ketika ia memilih untuk tidak melanjutkan proyek reklamasi Teluk Jakarta. Keputusan ini mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk kalangan bisnis dan politik. Namun, Anies berdiri pada prinsip bahwa proyek tersebut lebih banyak menguntungkan segelintir elit dan tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, apalagi berdampak pada kerusakan lingkungan.Keputusan itu menimbulkan kontroversi, namun Anies membuktikan bahwa keberanian untuk berbeda arah adalah bagian dari kepemimpinan sejati. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin berarti siap untuk tidak menyenangkan semua pihak, selama itu demi kebaikan yang lebih besar.Gaya Komunikasi: Tegas Tapi EleganMeski dikenal sebagai pemimpin yang tegas, gaya komunikasi Anies cenderung santun, terukur, dan berbasis narasi. Ia bukan tipe pemimpin yang suka membentak atau membuat sensasi, melainkan membangun argumen dan menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang mengedukasi. Ia menghindari pendekatan konfrontatif dalam komunikasi publik, namun tidak ragu dalam bertindak tegas secara kebijakan.Pendekatan ini memberinya kepercayaan dari berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional. Selama masa jabatannya, Jakarta berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Sustainable Transport Award 2021, sebagai bentuk pengakuan atas arah kebijakan transportasi yang progresif dan berkelanjutan.Membangun Tim Berdasarkan Kapasitas, Bukan KepentinganDalam menyusun tim kerja, Anies juga menunjukkan gaya kepemimpinan yang tidak kompromistis terhadap kualitas. Ia lebih memilih profesional muda yang kompeten dibanding figur titipan politik. Banyak staf dan kepala dinas di era Anies berasal dari kalangan profesional, bukan dari lingkaran partai politik.Ia menekankan pentingnya integritas, kompetensi, dan pelayanan publik sebagai syarat utama dalam birokrasi. Pendekatan ini berhasil menciptakan iklim kerja yang produktif, terukur, dan fokus pada pencapaian hasil.Menjaga Independensi PolitikSelama menjabat, Anies seringkali tidak sepenuhnya berpihak pada kekuatan politik tertentu. Ia menjaga jarak dari konflik elite, dan lebih fokus membangun narasi kebijakan yang berbasis kebutuhan warga. Inilah yang membuatnya dianggap sebagai tokoh politik independen, meski ia didukung oleh koalisi partai politik.Gaya kepemimpinannya yang berdiri di atas prinsip, bukan di atas kompromi politik, menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak masyarakat yang mendambakan pemimpin bersih, visioner, dan teguh.Pemimpin yang Dibutuhkan di Masa SulitDi tengah iklim politik yang sering diwarnai kompromi pragmatis, gaya kepemimpinan Anies Baswedan menjadi cermin dari alternatif model kepemimpinan: berbasis nilai, berani dalam keputusan, dan tidak goyah oleh tekanan. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan berarti menyenangkan semua pihak, melainkan tetap berdiri teguh di tengah badai dengan kompas moral yang jelas.Anies bukan hanya memimpin, tetapi juga menginspirasi bahwa dalam politik, keteguhan prinsip masih relevan, bahkan sangat dibutuhkan. Dalam era penuh ketidakpastian, pemimpin seperti inilah yang mampu menjaga arah dan memberikan harapan.
07-09-2014 23:46
Kanker serviks, atau yang dikenal juga dengan kanker mulut atau leher rahim, adalah jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita di dunia, termasuk di Indonesia. WHO pun mencatat bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian teratas pada wanita. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel abnormal pada leher rahim tumbuh dan menyebar tanpa terkontrol. Serviks adalah bagian bawah rahim (leher rahim) yang membuka dan terhubung ke kemaluan wanita. Penyebab Kanker Serviks Umumnya–lebih dari 99,5%–kanker serviks disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV. Virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui sentuhan, perpindahan cairan, atau menyentuh tempat yang telah terjangkit dengan virus ini. Namun yang paling umum adalah ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus HPV. Ada banyak jenis virus HPV, dan tidak semuanya menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan orang dewasa telah atau pernah terinfeksi virus HPV, namun infeksi virus ini bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi terkadang infeksi virus ini bisa menyebabkan kutil pada daerah kelamin atau menyebabkan terjadinya ke kanker serviks. Baca juga : Kantung Mata, Penyebab dan Cara Mengatasinya Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Itulah mengapa sangat penting bagi wanita melakukan tes PAP smear secara reguler untuk mendeteksi ketidaknormalan pada leher rahim sebelum mereka berubah menjadi kanker. Pada tes ini berlangsung, dokter akan mengorek sampel kecil dari sel-sel di permukaan leher rahim untuk melihat perubahan sel. Jika tes PAP menunjukkan perubahan yang abnormal, dokter akan melakukan tes lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berupa kanker atau dapat menyebabkan kanker di leher rahim. Gejala Kanker Serviks Perubahan abnormal pada sel serviks jarang menimbulkan gejala. Jika perubahan tersebut berkembang menjadi kanker, gejala yang timbul bisa berupa: Pendarahan tak normal pada vagina, misalnya di antara periode menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause. Merasa sakit ketika berhubungan intim atau ketika buang air kecil. Nyeri di perut bagian bawah atau panggul. Keputihan yang tidak normal, misalnya berlebih atau bercampur darah. Perubahan signifikan yang tak dapat dijelaskan pada siklus menstruasi. Pada tahapan yang lebih lanjut, gejala yang mungkin timbul antara lain: Anemia karena pendarahan berlebih pada kemaluan. Sakit berkelanjutan pada panggul, punggung dan juga kaki. Masalah urinasi/buang air kecil. Berat badan turun drastis. Baca juga : 10 Kebiasaan Yang Bisa Turunkan Berat Badan Melakukan screening dan tes sejak dini sangat berperan untuk mencegah kanker serviks. Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi kasus kanker serviks yang invasif, yaitu sebesar 50% atau lebih. Penanganan Kanker Serviks Perawatan dan penanganan kanker serviks meliputi operasi pada kanker serviks stadium awal, dan kemoterapi serta radioterapi pada stadium yang lebih lanjut. Tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang, penderita mungkin akan satu atau lebih penanganan (kombinasi). Jika dilakukan hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) pada penderita, maka penderita tak bisa lagi memiliki anak. Namun hysterectomy tidak selalu dibutuhkan, khususnya jika kanker ditemukan masih pada tahap sangat awal.