Waktu Posting : 03-10-2014 11:23 | Dibaca : 2819x
08-07-2014 16:14
Hobi mengkonsumsi makanan yang diolah secara pengasapan termasuk kurang baik. Begitu pula hobi mengkonsumsi asinan. Memang lezat dan sedap namun dibalik itu membawa risiko kanker lambung. Apalagi di keluarga Anda ada yang pernah menderita kanker lambung, maka perlu Anda waspada terhadap diri sendiri. Sebab kanker lambung termasuk kanker yang terjadi karena keturunan atau genetik. Kanker lambung juga diakibatkan karena infeksi yang ditimbulkan oleh bakteri bernama Helicobacter pylori. Bakteri tersebut biasa hidup di dalam tubuh Anda. Daerah lapisan lendir adalah tempat tinggal si bakteri penyebab infeksi yang mengarah kanker lambung. Jika Anda mengalami gejala pernicious anemia maka perlu berhati-hati. Ketika tubuh Anda sulit mencerna sumber mikro vitamin B12 maka akan terjadi pengurangan jumlah sel eritrosit yang berbahaya bagi kesehatan. Radang lambung yang diakibatkan senyawa nikotin yang sudah menumpuk dan menjalar hingga di daerah lambung juga menjadi pemicu kanker lambung. Sebelum menyesal di kemudian hari karena penyakit kanker lambung, sehatkan pencernaan Anda. setiap hari. Beli dan konsumsi buah yang dapat melancarkan pencernaan. Buah pisang, pepaya, apel, adalah beraroma buah kaya serat, vitamin, dan mineral. Begitu juga dengan sayur seperti bayam, sawi, wortel. Walaupun secara umum semua buah dan sayur adalah baik bagi pencernaan. Seimbangkan dengan mengkonsumsi susu segar. Lambung sehat maka mengkonsumsi makanan dan minuman akan terasa nyaman. Kesimpulannya, harus rutin tiap hari buang air besar.Â
01-09-2014 20:11
saya mau tanya apakah ada obat alami utk penyakit ppok?ortu saya berumur 58thn sdh divonis penyakit ppok sejak thn 2009 dan sdh bbrp x msk rmh skt dan skr sdh memakai oksigen drmh dgn uk stgh ltr dan untuk berjln bisa 3ltr.yg saya mau tanyakan apakah ada obat utk menyembuhkannya?dan bagaimana cara?
26-05-2014 00:52
Postmatur ialah kebalikan dari premature, bayi dimaksud postmatur apabila baru lahir sesudah melebihi 42 minggu dalam rahim. Insiden kelahiran postmatur tambah lebih umum dari pada premature, kira-kira 7 Persen bayi dilahirkan postmatur, walau faktanya barangkali tak seluruhnya benar-benar postmatur. Beberapa bayi yang disangka postmatur sesungguhnya lantaran kekeliruan dalam mengkalkulasi awal kehamilan, cuma kira-kira 2-3% yang benar-benar postmatur. Resiko bayi postmatur Seperti bayi premature, bayi postmatur mempunyai potensi persoalannya sendiri yang dapat beresiko untuk kesehatan serta keberlangsungan hidupnya. Sesudah melalui 42 minggu kehamilan, plasenta umumnya sudah berkurang hingga lebih sedikit nutrisi serta oksigen yang tersalurkan ke bayi. Bayi yang selalu tumbuh juga bikin cairan ketuban makin menyusut. Saat hal semacam ini berlangsung, tali pusat bisa terjepit waktu bayi bergerak atau rahim berkontraksi. Hal ini dapat juga mengganggu pasokan nutrisi serta oksigen ke bayi. Semacam kompensasi, bayi mulai memakai lemak serta karbohidrat sendiri untuk sediakan daya. Baca juga : Cuaca Panas Bisa Picu Serangan Jantung Tingkat pertumbuhannya jadi lambat serta terkadang berat tubuhnya juga barangkali terjadi penurunan. Bayi postmatur rawan untuk meningkatkan kandungan gula darah rendah (hipoglikemia) lantaran mereka sudah kehabisan simpanan lemak serta karbohidrat. Potensi persoalan pada bayi postmatur diantaranya :1. Sindrom dismaturitas (dysmaturity syndrome) Bayi mempunyai karakteristik insufisiensi plasenta seperti kulit yang kering, terkelupas, keriput, kuku serta rambut panjang serta badan tampak kurus lantaran kurang gizi. 2. Sindrom masukan mekonium Bayi keluarkan tinja (mekonium) ke dalam cairan ketuban serta lalu menghirupnya ke dalam paru-paru, hal semacam ini bisa mengakibatkan bayi kesusahan bernapas serta berisiko meningkatkan komplikasi seperti infeksi paru-paru serta hipertensi polmunar persisten. 3. Makrosomia Bayi tumbuh terlampau besar hingga lebih susah untuk lahir dengan cara normal lewat jalan lahir. Keadaan ini berlangsung apabila plasenta tetap berperan dengan baik walau telah melalui 42 minggu. 4. Kelahiran mati Bayi meninggal ketika dalam rahim. Aspek pemicu bayi lahir terlambat : Ada kisah kelahiran terlambat dalam keluarga atau pada kehamilan pada mulanya. Sang bayi berjenis kelamin laki-laki. Kehamilan ini ialah kisah anak yang pertama. Berat tubuh ibu yang berlebihan atau kegemukan. Kesalahan estimasi penghitungan umur kehamilan, yang umumnya berlangsung lantaran menstruasi paling akhir tak di ketahui dengan cara pasti. Baca juga : Inilah Tanda Lahir Anak Kembar Untuk menurunkan tingkat kekhawatiran, kontrol terus mesti dikerjakan. Terlebih lantaran ibu yang hamil tua bakal merasakan kelelahan fisik yang lebih. Kewaspadaan pada kemungkinan pre-eklamsia juga terus mesti dijaga. Jika memanglah ada kisah keluarga yang pernah menjalani kelahiran terlambat, tak lalu bermakna pasangan bisa mengendorkan kewaspadaan. PerawatanBila kehamilan Anda sudah mencapai ke 41-42 minggu, benar-benar perlu untuk Anda guna memeriksa kesehatan bayi Anda. Terdapat banyak pengontrolan yang dapat dikerjakan, yang meliputi pemantauan janin dengan cara fisik serta dengan Doppler atau USG. Bila kontrol memperlihatkan bahwasanya bayi aktif serta sehat serta volume cairan ketuban normal, dokter atau bidan bisa mengambil keputusan untuk meneruskan pemantauan dengan cara berkala hingga persalinan Anda diawali dengan cara alami. Bila hasil kontrol memperlihatkan bahwasanya bayi barangkali punya masalah, ada pilihan apakah bakal menginduksi supaya persalinan secepatnya dilakukan atau menjalani bedah caesar. Umumnya bayi yang dilahirkan postmatur mempunyai keadaan yang sehat tidak dengan komplikasi. Pada bayi yang menderita kekurangan oksigen, resusitasi barangkali dibutuhkan. Bila mekonium muncul dalam cairan ketuban serta bayi baru lahir lesu, tabung dibiarkan lewat ke batang tenggorokan (trakea) untuk menghisap mekonium yang barangkali menghalangi saluran pernapasan. Bila mekonium sudah masuk ke paru-paru, ventilator barangkali dibutuhkan untuk menunjang pernapasan. Pemberian larutan glukosa lewat vena (infus) kerapkali butuh dikerjakan untuk menghindari hipoglikemia.