Waktu Posting : 06-09-2018 02:13 | Dibaca : 1841x
25-04-2014 03:15
Terlalu Dini Minum Obat Medis Hipertensi Bisa Picu Stroke - Seakan sudah dilumrahkan awam kalau setiap tekanan darah atas atau sistolik di atas 120 dan tekanan bawah distolik di atas 80 serta merta dianggap sudah darah tinggi (hipertensi). Tak soal kapan diukur, bagaimana mengukurnya, dan dalam kondisi apa orang diukur. Kita tahu tekanan darah berfluktuasi dari waktu ke waktu, bahkan dari jam ke jam. Emosi, kondisi bergiat, efek hormonal dan faktor stres ikut mempengaruhi tekanan darah. Vonis bahwa seseorang hipertensi tidak dihasilkan oleh keputusan selewat sambil lalu. Sekali seseorang divonis hipertensi, mungkin harus berurusan dengan terus minum obat. Sikap seperti itu tidaklah bijak. Karena bila keputusan itu ternyata tidak tepat, orang merugi karena harus minum obat untuk sesuatu yang belum perlu. Baca juga : Obat Hipertensi dari Jus Buah-buahan Sejatinya, tekanan darah diukur pada saat baru bangun tidur pagi hari. Belum melakukan apa-apa, misal belum mengomel pada pembantu, belum merasa jengkel, dan belum juga bergiat fisik, di saat itulah tekanan darah langsung diukur. Tekanan darah saat itu mencerminkan kondisi semurninya tekanan darah. Tentu akan menjadi berbeda hasilnya bila diukur sudah melakukan aktivitas. Seseorang baru dipastikan hipertensi bila diukur tiga kali berturut-turut selang waktu beberapa hari dengan alat yang sama memberikan hasil yang sama-sama lebih tinggi dari normal. Hanya dari pemeriksaan tensi satu kali saja, dan hanya karena melihat lebih tinggi dari 120/80 mmHg, lalu langsung memastikan kalau itu hipertensi, bisa jadi belum tentu diagnosis yang betul. Optimalnya tekanan darah itu kurang atau sama dengan 120/80 mmHg. Menurut WHO International Society of Hypertension, tensi 130/85 mmHg masih tergolong normal dan 139/89 mmHg tergolong normal atas (high normal). Seseorang baru dikategorikan hipertensi (ringan) setelah tensinya 140/90 mmHg. Tentu dengan catatan, pengukuran dilakukan dengan kondisi seperti sudah disebut di atas dan alat tensimeternya sudah ditera normal. Baca juga : Tips Hidup Sehat Bersama Darah Tinggi Jadi kalau kondisi pengukuran tidak menghasilkan nilai tensi yang sesungguhnya dan tensinya belum berkategori hipertensi, tak bijak kalau terlalu cepat langsung diintervensi dengan obat. Mengapa? Bila tensi ternyata bukan yang sesungguhnya langsung diberi obat, bisa jadi tensi darah malah jadi anjlok. Kita tahu, tubuh punya mekanisme otoregulasi tekanan darah. Waspadai bila tak ada riwayat darah tidak pernah tinggi mendadak jadi tinggi. Perlu lebih kritis untuk bertanya ulang kalau dokter masih memberi resep, apa obat memang sudah diperlukan. Bila suatu saat tensi meninggi, ada sistem tubuh yang mengatur untuk menurunkannya. Sebaliknya, kalau tensi menurun, tubuh akan menaikkannya. Biarkan dulu mekanisme itu berjalan tanpa perlu diintervensi dengan obat. Kelewat cepat memberi obat, berarti mengacaukan mekanisme otomatisasi tubuh melakukan keseimbangan tekanan darah (homeostasis). Bisa jadi, malah bisa anjlok akibatnya. Kejadian anjloknya tensi darah akibat kelewat cepat atau mungkin kelewat tinggi pemberian dosis obat darah tinggi, bukan peristiwa yang jarang. Acap oleh ulah pasien sendiri yang memutuskan minum obat begitu merasa tekanan darah yang diukurnya sendiri di rumah meningkat, bisa-bisa fatal akibatnya. Baca juga : Tak Semua Obat Medis Cocok Untuk Hipertensi Tekanan darah yang mendadak anjlok buruk akibatnya pada otak dan jantung, selain ginjal. Pasokan darah ke organ-organ tubuh penting itu mendadak berkurang. Kita tahu otak paling rentan terhadap kekurangan pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Kasus stroke berisiko terjadi kalau tensi darah mendadak anjlok. Stroke bisa terjadi lantaran tensi darah kelewat tinggi, bisa juga bila kelewat rendah.
20-06-2022 01:13
Makan banyak tapi tetap kurus mungkin menjadi satu hal yang hampir mustahil terjadi kecuali jika kamu melakukan hal lain untuk mengimbangi kebiasaan itu setiap harinya. Kira-kira apa hal lain yang bisa mengimbangi kebiasaan tersebut? Ini beberapa tips makan banyak tapi tetap kurus. 1. Sering olahraga Banyak makan tapi tetap kurus tidak akan mungkin tanpa olahraga yang rajin. Olahraga adalah satu-satunya cara sehat untuk membakar kalori makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga tidak sampai ditumpuk dan diubah menjadi lemak. 2. Porsi kecil Jika ingin makan banyak apa saja tapi juga ingin tetap kurus, satu trik yang bisa diterapkan adalah makan dalam porsi kecil. Bahkan cara diet saja ada yang menerapkan makan porsi kecil tapi sering untuk menghindari kebiasaan makan berlebihan. 3. Banyak minum Makan apa saja boleh, tapi agar tidak cepat mengalami kenaikan berat badan tentunya harus diimbangi dengan minum yang banyak karena minum air putih membantu mengenyangkan perut sehingga menghilangkan nafsu makan dan mengurangi keinginan makan berlebihan. 4. Istirahat cukup Tidur yang cukup juga efektif menjaga berat badan karena kamu mengurangi waktu tergoda ngemil atau makan sembarangan. Justru ketika tubuh kurang tidur atau memaksakan diri untuk terjaga tapi sebenarnya dalam kondisi sangat lelah, justru otak akan merespon dengan mengirim sinyal 'menyuruhmu makan'. Jadi tidurlah daripada makan. 5. Tidak banyak duduk Selain olahraga, salah satu kebiasaan harian yang tidak boleh diabaikan setiap harinya adalah gaya hidup bermalas-malasan, duduk terus atau sedentary. Jika memiliki kebiasaan bermalas-malasan, sulit rasanya banyak makan tapi tetap kurus. Imbangi aktivitas harian yang aktif jika tetap ingin makan banyak.
05-07-2014 16:49
Asik bekerja oke-oke saja, namun agar tidak aktivitas yang semestinya berfaedah bagi Anda itu malah berefek menghabiskan biaya disebabkan kesehatan Anda menjalani penurunan. Lagipula, banyak lamgkah yang dapat dikerjakan untuk melindungi stamina Anda supaya terus stabil. Satu diantara jalan yang paling murah serta gampang ialah dengan mengatur pola minum air putih. Gaya hidup rajin minum air putih kerapkali tak dicermati oleh kebanyakan orang-orang Indonesia. Riset The Indonesian Hydration Regional Study (THIRST) yang dikerjakan pada 2010 juga mendapati 46% dari 1.200 orang yang dilihat di berbagai kota besar di Indonesia mempunyai kecenderungan menderita dehidrasi ringan. Baca juga : Cara Mengatasi Jerawat di Usia Dewasa Orang-orang biasanya kurang mengetahui apakah itu dehidrasi ringan. Rasa haus merupakan pemberi tanda awal terjadinya dehidrasi ringan. Hal semacam itu umumnya lantaran malas minum air putih dengan beragam dalih. Walau sebenarnya, hilangnya dahaga malah merupakan indikasi bahwasanya tingkat dehidrasi yang dihadapi seorang telah lebih tinggi. Jadi, waktu merasa haus, baiknya secepatnya minum seperlunya, lantaran bila dilewatkan terus-menerus, bisa memiliki potensi mengakibatkan penyakit-penyakit serius, seperti konstipasi (sulit buang air besar), infeksi saluran kemih serta infeksi batu ginjal Kebanyakan badan manusia pada intinya memanglah terbagi dalam air : Pada bayi prematur sejumlah 80% dari berat tubuh, bayi normal 70-75%, sedang orang dewasa sejumlah 50-60%. Kekurangan 1,5% kandungan air dalam badan saja dapat membahayakan mood, terlebih untuk wanita yang lebih rawan pada efek dehidrasi. Dibawah ini ialah dampak-dampak yang memiliki potensi menyerang pria serta wanita disebabkan dehidrasi ringan : A. Pada pria, dengan titik dehidrasi 1,5% Performa kognitif : Kewaspadaan dengan cara visual menurun Kemampuan kerja rekam visual menurun Baca juga : 6 Langkah SADARI yang Perlu Anda Pelajari 2. Fase yang melibatkan mood : Didera kelelahan serta inertia Tensi darah serta rasa kuatir meningkat B. Pada wanita, dengan titik dehidrasi 1,3% Performa kognitif : Kewaspadaan dengan cara visual menurun Kemampuan kerja rekam visual menurun 2. Fase yang melibatkan mood : Didera kelelahan serta inertia Tensi darah serta rasa kuatir meningkat Gampang bingung/panik Semangat serta kegiatan menurun 3. Gejala-gejala Daya konsentrasi menurun Kesusahan merampungkan tugas Diserang sakit kepala